Anak Sopir Angkot Bisa jadi Pilot?
JANGAN TERTIPU!
Share Today at 9:53am
Saya copy paste dari FB seorang teman.
------------ --------- --------- --------- --------- ----
Kita tentu sudah tak asing dengan iklan pendidikan gratis yang belakangan gencar diyatangkan di seluruh stasiun televisi. Kalimat "biar bapaknya sopir angkot, anaknya bisa jadi pilot!" atau "biar bapaknya loper Koran, anaknya bisa jadi wartawan! Asal bisa memanfaatkan pendidikan gratis ini dengan baik!"
Terdengar begitu manis memang. Kebanyakan orang pun dengan mudah terbius oleh kampanye pendidikan gratis dan berbagai macam program pemerintah seperti BLT, PNPM mandiri, konversi minyak tanah ke gas,de el el yang kelihatan begitu "wow."
Tak sadarkah kita, hei rakyat Indonesia yg masih terdaftar sebagai spesies manusia dan diberikan akal oleh Allah SWT?!
Tak lain dan tak bukan, itu adalah politik cari muka salah satu calon (yg emang udah terbukti mampu menarik hati sebagian rakyat yang menggantungkan masa depannya pada kotak suara). Masih gak percaya?
Baiklah… kalo kita mau itung2an. Bisa jadi sekolah SD ama SMP emang di gratiskan (meskipun gak semua). Tapi coba kita lihat:
Untuk masuk SMA saja, orang tua harus merogoh kocek dariratusan ribu sampai jutaan rupiah. Di SMAN 4 Malang uang masuk Rp 884 Ribu (malangraya. web.id), SMA Negeri 2 dan SMA Negeri 3 Luwuk ditetapkan sebesar Rp900 ribu per siswa. Sedangkan SMK Negeri 1 Luwuk ditetapkan sebesar Rp1,4 juta, SMK Negeri 2 Luwuk sebesar Rp830 ribu, SMK Negeri 3 Luwuk sebesar Rp400 ribu (radarsulteng. com). Dulu, SPP SMAN 5 Palembang tidak sampai Rp100 ribu per bulan. Tetapi untuk tahun ini SPP mencapai Rp500 ribu per bulan, belum lagi dana pungutan partisipasi siswa yang ditetapkan minimal Rp3,5 juta. (beritapagi. co.id)
Memang ada embel2, "bagi yang kurang mampu akan diberikan keringanan biaya masuk". Hoho… tapi apakah sekolah SMA hanya "memakan" biaya masuk saja? Bagaimana dengan SPP per bulan (selama 3 tahun), beli buku, beli seragam, uang ini, uang itu, de el el??
Apa orang cukup sekolah ampe SMP untuk jadi Pilot? Atau ada media yang mau menerima "wartawan" lulusan SMP? TENTU TIDAK, SAUDARA! Untuk menjadi seperti apa yang mereka sebutkan, paling tidak mereka harus menempuh pendidikan khusus, atau paling tidak, mengenyam bangku kuliah. Maka bagi saya, tak mungkin anak sopir angkot bias jadi pilot kalo hanya mengandalkan pendidikan gratis dari pemerintah yang cuma sampe SMP itu!
Itu baru biaya di SMA, bung! Belum lagi dengan nasib mereka yang harus menempuh pendidikan tinggi. Serangan kapitalisasi pendidikan bertopeng BHMN, dan BHP juga sudah menerjang hampir seluruh perguruan tinggi negeri, terutama setelah di-sah-kan UU BHP beberapa waktu lalu. Maka jangan heran, orang tua sekarang harus siap2 menjual sawah atau tanah mereka, ternak, atau mungkin kendaraan bermotor mereka, "hanya" untuk menutupi biaya masuk Perguruan Tinggi saja. Belum termasuk SPP per semester, biaya praktikum, uang makan dan kos sebulan, de el el.
Meskipun Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri dikenal sebagai jalur murah, mahasiswa yang masuk melalui jalur itu tidak bebas biaya masuk. Pada 2009 ini, jumlah biaya masuk perguruan tinggi negeri bagi mahasiswa baru dari SNMPTN berkisar Rp 2 juta hingga lebih dari Rp 20 juta. Di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, biaya masuk bagi mahasiswa baru dari Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2009 sekitar Rp 2 juta ditambah Rp 300.000. Sementara itu, Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Rohmad Wahab menjelaskan, tahun ini, biaya masuk terkecil terdapat di prodi Fakultas Bahasa dan Seni UNY, yaitu Rp 5,465 juta. Biaya masuk terbesar terdapat di Prodi Teknik Elektro, yaitu Rp 6,705 juta. Di UGM, jumlah minimal sumbangan peningkatan mutu akademis bagi mahasiswa baru jalur SNMPTN tahun ini ditetapkan Rp 5 juta-Rp 10 juta, tergantung pada prodi yang dipilih. Jumlah maksimal mencapai lebih Rp 20 juta (http://snmptn. or.id/?p= 1154)
Belum lagi universitas2 bonafit sekelas UI yg memancang tariff biaya masuk 5 – 25 juta rupiah. Itu belum termasuk biaya tetek bengek, dan SPP per semester sebesar 5 – 7,5 juta (http://www.ui. ac.id/download/ biaya-pendidikan /sarjana- reguler.pdf). Belum lagi kalo masuknya lewat jalan tol, alias jalur khusus. Biaya-nya bisa buat beli rumah! Wakil Ketua Seleksi Mahasiswa UNPAD, Mien Hidayat menyatakan, besaran dana pengembangan berbeda-beda sesuai fakultas. Fakultas Kedokteran adalah yang termahal dengan dana pengembangan Rp 10 juta-Rp 175 juta. Diikuti Fakultas kedokteran Gigi sebesar Rp 60 juta, Fakultas Psikologi Rp 50 juta, Fakultas Ekonomi Rp 45 juta, dan Fakultas Hukum serta Fakultas Ilmu Komunikasi sebesar Rp 30 juta. Fakultas lain seperti Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik berkisar antara Rp 12,5 juta hingga Rp 30 juta (http://www.matabumi .com/)
Hhhff….. cari sendiri deh yang lain2nya! Saya capek ngitungnya!
Jadi, masih percaya anak angkot bias jadi pilot??!!
NB: Saya tidak bermaksud "meniadakan" kuasa Allah SWT, atau keajaiban2 yg bisa jadi datang dari-Nya dan merubah nasib orang. Saya hanya ingin kita berpikir realistis dan tidak begitu saja percaya pada janji manis para pemimpin yang tak pernah lepas dari pamrih. JANGAN PERNAH MAU DIBODOHI!!




