26.7.09 | Posted in


Anak Sopir Angkot Bisa jadi Pilot?
JANGAN TERTIPU!

Share Today at 9:53am
Saya copy paste dari FB seorang teman.
------------ --------- --------- --------- --------- ----

Kita tentu sudah tak asing dengan iklan pendidikan gratis yang belakangan gencar diyatangkan di seluruh stasiun televisi. Kalimat "biar bapaknya sopir angkot, anaknya bisa jadi pilot!" atau "biar bapaknya loper Koran, anaknya bisa jadi wartawan! Asal bisa memanfaatkan pendidikan gratis ini dengan baik!"

Terdengar begitu manis memang. Kebanyakan orang pun dengan mudah terbius oleh kampanye pendidikan gratis dan berbagai macam program pemerintah seperti BLT, PNPM mandiri, konversi minyak tanah ke gas,de el el yang kelihatan begitu "wow."

Tak sadarkah kita, hei rakyat Indonesia yg masih terdaftar sebagai spesies manusia dan diberikan akal oleh Allah SWT?!

Tak lain dan tak bukan, itu adalah politik cari muka salah satu calon (yg emang udah terbukti mampu menarik hati sebagian rakyat yang menggantungkan masa depannya pada kotak suara). Masih gak percaya?

Baiklah… kalo kita mau itung2an. Bisa jadi sekolah SD ama SMP emang di gratiskan (meskipun gak semua). Tapi coba kita lihat:

Untuk masuk SMA saja, orang tua harus merogoh kocek dariratusan ribu sampai jutaan rupiah. Di SMAN 4 Malang uang masuk Rp 884 Ribu (malangraya. web.id), SMA Negeri 2 dan SMA Negeri 3 Luwuk ditetapkan sebesar Rp900 ribu per siswa. Sedangkan SMK Negeri 1 Luwuk ditetapkan sebesar Rp1,4 juta, SMK Negeri 2 Luwuk sebesar Rp830 ribu, SMK Negeri 3 Luwuk sebesar Rp400 ribu (radarsulteng. com). Dulu, SPP SMAN 5 Palembang tidak sampai Rp100 ribu per bulan. Tetapi untuk tahun ini SPP mencapai Rp500 ribu per bulan, belum lagi dana pungutan partisipasi siswa yang ditetapkan minimal Rp3,5 juta. (beritapagi. co.id)

Memang ada embel2, "bagi yang kurang mampu akan diberikan keringanan biaya masuk". Hoho… tapi apakah sekolah SMA hanya "memakan" biaya masuk saja? Bagaimana dengan SPP per bulan (selama 3 tahun), beli buku, beli seragam, uang ini, uang itu, de el el??

Apa orang cukup sekolah ampe SMP untuk jadi Pilot? Atau ada media yang mau menerima "wartawan" lulusan SMP? TENTU TIDAK, SAUDARA! Untuk menjadi seperti apa yang mereka sebutkan, paling tidak mereka harus menempuh pendidikan khusus, atau paling tidak, mengenyam bangku kuliah. Maka bagi saya, tak mungkin anak sopir angkot bias jadi pilot kalo hanya mengandalkan pendidikan gratis dari pemerintah yang cuma sampe SMP itu!

Itu baru biaya di SMA, bung! Belum lagi dengan nasib mereka yang harus menempuh pendidikan tinggi. Serangan kapitalisasi pendidikan bertopeng BHMN, dan BHP juga sudah menerjang hampir seluruh perguruan tinggi negeri, terutama setelah di-sah-kan UU BHP beberapa waktu lalu. Maka jangan heran, orang tua sekarang harus siap2 menjual sawah atau tanah mereka, ternak, atau mungkin kendaraan bermotor mereka, "hanya" untuk menutupi biaya masuk Perguruan Tinggi saja. Belum termasuk SPP per semester, biaya praktikum, uang makan dan kos sebulan, de el el.

Meskipun Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri dikenal sebagai jalur murah, mahasiswa yang masuk melalui jalur itu tidak bebas biaya masuk. Pada 2009 ini, jumlah biaya masuk perguruan tinggi negeri bagi mahasiswa baru dari SNMPTN berkisar Rp 2 juta hingga lebih dari Rp 20 juta. Di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, biaya masuk bagi mahasiswa baru dari Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2009 sekitar Rp 2 juta ditambah Rp 300.000. Sementara itu, Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Rohmad Wahab menjelaskan, tahun ini, biaya masuk terkecil terdapat di prodi Fakultas Bahasa dan Seni UNY, yaitu Rp 5,465 juta. Biaya masuk terbesar terdapat di Prodi Teknik Elektro, yaitu Rp 6,705 juta. Di UGM, jumlah minimal sumbangan peningkatan mutu akademis bagi mahasiswa baru jalur SNMPTN tahun ini ditetapkan Rp 5 juta-Rp 10 juta, tergantung pada prodi yang dipilih. Jumlah maksimal mencapai lebih Rp 20 juta (http://snmptn. or.id/?p= 1154)

Belum lagi universitas2 bonafit sekelas UI yg memancang tariff biaya masuk 5 – 25 juta rupiah. Itu belum termasuk biaya tetek bengek, dan SPP per semester sebesar 5 – 7,5 juta (http://www.ui. ac.id/download/ biaya-pendidikan /sarjana- reguler.pdf). Belum lagi kalo masuknya lewat jalan tol, alias jalur khusus. Biaya-nya bisa buat beli rumah! Wakil Ketua Seleksi Mahasiswa UNPAD, Mien Hidayat menyatakan, besaran dana pengembangan berbeda-beda sesuai fakultas. Fakultas Kedokteran adalah yang termahal dengan dana pengembangan Rp 10 juta-Rp 175 juta. Diikuti Fakultas kedokteran Gigi sebesar Rp 60 juta, Fakultas Psikologi Rp 50 juta, Fakultas Ekonomi Rp 45 juta, dan Fakultas Hukum serta Fakultas Ilmu Komunikasi sebesar Rp 30 juta. Fakultas lain seperti Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik berkisar antara Rp 12,5 juta hingga Rp 30 juta (http://www.matabumi .com/)

Hhhff….. cari sendiri deh yang lain2nya! Saya capek ngitungnya!

Jadi, masih percaya anak angkot bias jadi pilot??!!

NB: Saya tidak bermaksud "meniadakan" kuasa Allah SWT, atau keajaiban2 yg bisa jadi datang dari-Nya dan merubah nasib orang. Saya hanya ingin kita berpikir realistis dan tidak begitu saja percaya pada janji manis para pemimpin yang tak pernah lepas dari pamrih. JANGAN PERNAH MAU DIBODOHI!!


Category:
��
17.7.09 | Posted in




Oleh: Budi Darma

KASUS flu babi yang menghebohkan masyarakat Indonesia belakangan ini mengingatkan saya pada era 1979, tepatnya Januari, sesaat setelah saya menyelesaikan S-2 di Universitas Indiana, Bloomington, Indiana, Amerika. Kala itu sponsor saya, Fulbright, mengizinkan saya tetap tinggal di Bloomington sampai Mei, akhir semester musim semi.

Karena mendapatkan izin tersebut, saya bisa mengambil beberapa mata kuliah sambil berjuang untuk memperoleh beasiswa S-3 dengan membawa keluarga. Fulbright sudah terikat kontrak. Maka, Fulbright tidak dapat memberikan beasiswa lanjutan, apalagi saya mengajak keluarga. Karena sebetulnya saya sudah diterima S-3 dan dapat langsung masuk ke S-3, Fulbright berjanji menawarkan kasus saya ke sponsor-sponsor lain. Dengan catatan, saya harus berusaha sendiri.

Sialnya, berita mengenai beasiswa tidak kunjung tiba. Sabtu, 22 Mei 1976, saya pulang dengan singgah di berbagai negara di Eropa. Lalu, Sabtu, 29 Mei 1976, ketika berada di Paris, saya menerima telegram dari Bloomington. Isinya: The Ford Foundation setuju, kalau mungkin, segera kembali ke Bloomington. Karena harus mengurus keluarga dan beberapa dokumen, saya putuskan untuk pulang dulu ke Indonesia. Apalagi, semester musim panas sudah mulai. Karena itu, saya akan masuk semester musim gugur, Agustus 1976.

Karena berbagai dokumen harus diurus ulang, saya dan keluarga baru bisa berangkat ke Bloomington lewat Jakarta pada Selasa, 7 September 1976. Di Bloomington, kuliah sudah berjalan. Karena itu, saya harus ke sana kemari untuk menghubungi berbagai pihak. Senin, 13 September 1976, saya mulai kuliah.

***

Di hari pertama kuliah itu, saya tidak tahu mengapa pers kampus dan pers lokal beberapa kali menyiarkan berita bahwa semua penduduk Bloomington wajib vaksinasi swine flu di rumah sakit, gratis. Seperti teman-teman dan para tetangga, waktu itu saya tidak perduli apa itu swine flu. Namun, karena merasa sebagai penduduk Bloomington, Selasa sore, 14 Mei 1976, saya dan keluarga pergi ke rumah sakit. Di sana sudah berderet banyak orang, menunggu giliran.

Setelah membaca pengumuman, tahulah saya bahwa swine flu sudah masuk ke beberapa kota besar di Amerika. Meskipun di Bloomington belum pernah ditemukan kasus swine flu dan lokasinya jauh dari kota-kota besar, penduduk wajib vaksinasi untuk menghindari kemungkinan kontaminasi. Seperti penduduk lain, saya tetap tidak peduli apa makna swine flu dan merasa aman karena pemerintah sudah menyediakan vaksinasi gratis.

Beberapa waktu lalu (saya sudah tidak rajin menulis catatan harian), pers menyebarkan informasi tentang flu babi di Meksiko. Radio BBC mewartakan bahaya flu babi, sejarahnya, dan kemungkinan penyebarannya. Suatu sore, ketika kebetulan menonton TV, saya melihat Presiden SBY berbicara mengenai swine flu (presiden mempergunakan istilah tersebut).

Dari rentetan peristiwa itu, baru saya teringat dengan peristiwa di Bloomington yang sudah saya lupakan, swine flu tidak lain adalah flu babi. Sementara itu, pers menyiarkan berita mengenai pengusiran orang-orang Meksiko di Tiongkok. Sebab, Tiongkok takut terkontaminasi flu babi.

Kemudian, beberapa kali menteri kesehatan memberikan penjelasan mengenai flu babi, demikian juga para pakar. Berkali-kali menteri kesehatan menekankan, penduduk tidak perlu takut selama mengikuti gaya hidup sehat, yaitu gizi cukup, istirahat cukup, lingkungan bersih, dan cuci tangan dengan sabun setelah bepergian dan akan makan.

Beberapa pakar menjelaskan, flu babi bukan penyakit baru dan akan secara berkala muncul lagi. Flu babi muncul karena babi yang berpenyakit menulari manusia. Karena itu, kita harus mengikuti gaya hidup sehat.

Karena pemanasan global, perubahan gaya hidup, dan terus bertambahnya penduduk, kemungkinan lahirnya lagi penyakit manusia yang berasal dari binatang bakal makin sering terjadi. Contoh, karena tanah gembur makin sempit, kucing tidak bisa lagi buang air besar dan mencakar-cakar tanah tanah gembur untuk menutupi kotoran.

Ternyata, gaya itu menular pada kucing-kucing lain, bahkan di kawasan yang masih punya area tanah gembur. Saya sendiri melihat beberapa kucing liar melampiaskan hajat di aspal pinggir jalan, lalu mencakar-cakar aspal. Padahal, di dekat jalan itu masih banyak area tanah gembur. Binatang-binatang lain pun, kata para pakar, mengalami perubahan perilaku dan perubahan tersebut mempercepat munculnya lagi penyakit-penyakit yang ada sejak dulu.

***

Beberapa hari lalu, setelah beberapa hari kasus flu babi ditemukan di Indonesia, menteri kesehatan muncul lagi dengan pernyataan, kalau demikian keadaannya, masuk dan menyebarnya flu babi di Indonesia sudah tidak mungkin dicegah. Lalu, Senin, 13 Juli 2009, ada berita bahwa flu babi sudah masuk ke Surabaya dan penyebarannya sukar dibendung.

Apa yang diterima penduduk? Hanya berita-berita mengenai penyebaran dan bahaya flu babi serta nasihat-nasihat dari pemerintah untuk mengikuti gaya hidup sehat. Hanya itu. Mengapa? Bukan karena Indonesia melarat sehingga tidak mampu memberikan vaksinasi gratis, melainkan Indonesia digerogoti penyakit korupsi. Andai kata vaksinasi gratis pun diberikan, manipulasi pasti terjadi di sana sini, misalnya pungli. Kesadaran untuk antre tidak ada. Jarum yang seharusnya dipakai untuk satu orang dipakai untuk banyak orang, Kualitasnya pun sudah disulap menjadi kualitas buruk dan seterusnya. Sementara itu, politisi sodok-menyodok untuk memperebutkan kekuasaan dan kekuasaan diidentikkan dengan kesempatan untuk korupsi. (*)

*). Budi Darma, budayawan, guru besar Unesa, Surabaya.


Category:
��